KELUARGA AWU DAN TARANAK

Awu dan Taranak

AWU DAN TARANAK
Anggota Awu terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak.
Kepala Awu adalah Ama (ayah) dan ketika ia mati kemudian Ina (ibu) menggantikan dia. Fungsi kepala di tangan ayah di sini tidak berarti bahwa ia memiliki otoritas tanpa syarat di tangannya dalam organisasi rumah tangga. Berikut posisi kepala bersandar lebih ke arah makna bahwa ada rumah tangga dan kewajiban membela rumah tangga terhadap serangan dari luar.Sebagaimana ditetapkan oleh tradisi untuk pengelolaan rumah tangga Ama dan Ina wajib untuk membuat keputusan dan menetapkan kebijakan dalam musyawarah.
Dari perkawinan sebuah keluarga besar dibentuk yang mencakup beberapa Bangsal.Menurut adat, seorang Bangsal baru harus dibangun bersebelahan dengan Bangsal tua.Ini untuk kepentingan manajemen kedua belah pihak ‘, keamanan, dan masalah dengan lahan pertanian mereka saling.Sebuah kompleks bangsals seperti yang ditempati oleh penduduk yang memiliki hubungan keluarga disebut Taranak.Taranak kepemimpinan dipegang oleh Ama dari keluarga dan disebut Tu’ur. Tugas utama adalah untuk melestarikan Tu’ur ketentuan tradisional, mencakup hubungan antara Awu, mengatur cara-cara untuk memanfaatkan lahan pertanian yang dimiliki bersama, mengatur perkawinan antara anggota Taranak, hubungan antara Awu dan Taranak sampai dengan mencoba dan menghukum Anggota yang bersalah dari apa pun. Tetapi, apa pun yang dilakukan oleh dia, jika berkaitan dengan keamanan dan prestise dari Taranak, dia selalu akan meminta pendapat dari anggota Taranak, karena itu juga merupakan cadangan tradisional.
Berbeda dengan tingkat Awu di mana manajemen berada di tangan Ama dan Ina bersama-sama, pada tingkat Taranak peran Ina tidak terlalu menonjol. Taranak, Roong / Wanua, Walak
Pernikahan antara anggota Taranak membuat Taranaks baru.Bangsals mulai muncul dalam kelompok, membentuk kompleks yang semakin menjadi lebih luas.Batas-batas dari Taranak sebagai komunitas hukum mulai menjadi kabur, dan arti dari sebuah Taranak sebagai suatu kesatuan menjadi lebih abstrak.Jadi sebagai alat identifikasi para penghuni kompleks Bangsal, sebuah unit teritorial digunakan. Dengan kata lain fungsi identifikasi mulai bergeser dari bentuk hubungan darah untuk suatu bentuk penyelesaian.
Sebagai hasil dari proses ini sebuah komplek bangsal diciptakan dalam unit yang disebut Ro’ong atau Wanua. wilayah hukum yang Wanua meliputi kompleks Bangsal sendiri dan wilayah pertanian dan perburuan sekitarnya yang merupakan milik bersama dari penghuni Ro’ong atau Wanua. Kepala dari Ro’ong atau Wanua disebut Ukung yang berarti kepala atau pemimpin.Untuk pengelolaan wilayah tersebut, Ro’ong atau Wanua dibagi dalam beberapa bagian yang disebut Lukar.Pada awalnya ini Lukar bersandar terhadap keamanan, tetapi akhirnya Lukar digantikan menjadi jaga (satpam).
Sampai hari ini di beberapa tempat di Minahasa kata Lukar masih digunakan dalam arti seseorang yang merawat keamanan di desa atau di rumah kepala desa.
Seorang Ukung juga memiliki asisten yang disebut Meweteng.Tugas mereka pada awalnya adalah untuk membantu Ukung mengatur pembagian kerja dan pembagian hasil Ro’ong / Wanua.Distribusi hal ini sesuai dengan yang telah disepakati bersama.
Selain itu Ukung juga memiliki seorang asisten yang berfungsi sebagai penasihat, terutama dalam hal-hal yang sulit berkaitan dengan tradisi.Penasehat seperti ini tua-tua yang dihormati dan dihormati dan yang dianggap sebagai bijaksana, mereka bernama Pa Tu’usan (yang telah menjadi contoh).
Ro’ong / Wanua meningkat dari waktu ke waktu menjadi beberapa Wanua tertentu yang akhirnya disebut Walak.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

BATU BUAYA MALALAYANG

Oleh: Budi Harold Rarumangkay

Foto Batu Buaya

Silahkan klik untuk memperbesar gambar.

Malalayang yang didiami komunitas Tou Bantik, diam-diam ternyata memiliki legenda mistis tentang suatu batu yang dinamakan Batu Buaya. Jejak sejarah yang diduga dari jaman sebelum masehi dan belum tersentuh ini. Menyimpan daya tarik yang kuat. “Nilai Jualnya” sama dengan Batu Pinabetengan. Bahkan sejumlah batu-batu yang dianggap bertuah di Malalayang Bantik ini menyimpan sejuta cerita sejarah bernuansa magis. Cerita magis Bantik atau umumnya Tou Minahasa inipun tidak kalah hebatnya dengan cerita pewayangan seperti di Jawa atau cerita legenda Joko Tingkir.

Bagi warga Tou Bantik sendiri dikenal beberapa batu bersejarah; diantaranya Batu Buaya, Batu Kuangang, Batu Opo. Batu Buaya adalah yang berbentuk seperti buaya. Batu ini terletak di kelurahan Malalayang Satu, sedangkan Batu Kuangang berada di Kelurahan Malalayang Satu Barat dan Batu Opo di Kelurahan Malalayang.

Batu Buaya lebih dikenal dengan legenda perang antara dua suku di Minahasa pada jaman dulu. Yakni; Tonaas Tonsawang dengan Tonaas Bantik. Sedangkan Batu Kuangang dan Batu Opo adalah batu bertuah. Berbagai kejadian aneh mengikuti sejarah batu-batu yang diyakini memiliki kekuatan gaib ini. Bahkan, menurut warga kampung setempat, tak jarang sejumlah pejabat penting di negara ini berkunjung minta wangsit disini.

Malalayang yang didiami komunitas Tou Bantik, diam-diam ternyata memiliki legenda mistis tentang suatu batu yang dinamakan Batu Buaya. Jejak sejarah yang diduga dari jaman sebelum masehi dan belum tersentuh ini. Menyimpan daya tarik yang kuat. “Nilai Jualnya” sama dengan Batu Pinabetengan. Bahkan sejumlah batu-batu yang dianggap bertuah di Malalayang Bantik ini menyimpan sejuta cerita sejarah bernuansa magis. Cerita magis Bantik atau umumnya Tou Minahasa inipun tidak kalah hebatnya dengan cerita pewayangan seperti di Jawa atau cerita legenda Joko Tingkir.

Bagi warga Tou Bantik sendiri dikenal beberapa batu bersejarah; diantaranya Batu Buaya, Batu Kuangang, Batu Opo. Batu Buaya adalah yang berbentuk seperti buaya. Batu ini terletak di kelurahan Malalayang Satu, sedangkan Batu Kuangang berada di Kelurahan Malalayang Satu Barat dan Batu Opo di Kelurahan Malalayang.

Batu Buaya lebih dikenal dengan legenda perang antara dua suku di Minahasa pada jaman dulu. Yakni; Tonaas Tonsawang dengan Tonaas Bantik. Sedangkan Batu Kuangang dan Batu Opo adalah batu bertuah. Berbagai kejadian aneh mengikuti sejarah batu-batu yang diyakini memiliki kekuatan gaib ini. Bahkan, menurut warga kampung setempat, tak jarang sejumlah pejabat penting di negara ini berkunjung minta wangsit disini.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pementasan drama musikal Pementasan Legenda Minahasa Toar dan Lumimuut

Pementasan drama musikal legenda Minahasa – Mapurengkey berjudul “TOAR DAN LUMIMUUT” dengan sutradara Remmy Sylado di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Sabtu, 3 Desember 2005

Toar Lumimuut

Toar

Lumimuut

Posted in Uncategorized | Leave a comment

LEGENDA TELAGA TUMETENDEN

LEGENDA TELAGA TUMATENDEN
“9 BIDADARI”
Sembilan mata air di Airmadidi Bawah melambangkan sembilan bidadari yang datang mandi di Tumatenden. Konon mata air sembilan bidadari ini diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Pemandian sembilan bidadari ini airnya tak pernah surut meski kamarau panjang. Berdasarkan cerita rakyat Kelurahan Airmadidi Bawah, konon lokasi ini merupakan lokasi tempat mandi sembilan bidadari yang turun dari kayangan ke bumi. Di mana sebelum bumi didiami beribu-ribu tahun lalu, setiap selesai berburu, Mamanua selalu singgah di tempat pemandian itu.
Nah, pada suatu hari, salah seorang pesuruh melapor pada Mamanua bahwa tempat pemandian itu kotor. Mamanua pun marah mendengar kabar itu. Karena penasaran siapa yang berani melakukan hal itu, Mamanua kemudian menelusurinya. Setelah menunggu di tempat tersembunyi dekat tempat pemandian itu, Mamanua akhirnya mendengar bunyi angin ribut dari arah timur. Bunyi angin itu semakin lama semakin mendekat. Saat itu juga tampak sekelompok burung balam putih berjumlah sembilan ekor di tempat pemandian. Kesembilan ekor burung itu kemudian berubah menjadi sembilan putri cantik bersayap putih. Selanjutnya sembilan putri itu melepas sayap mereka dan mandi di kolam itu. Lantaran penasaran dan rasa cinta pada putri-putri itu, Mamanua langsung menyembunyikan salah satu sayap putih itu. Calaka, sayap putri bungsu hilang sehingga ia tidak dapat terbang kembali kekayangan. Para putri lain pun tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolong adik mereka yang bernama Lumalundung. Mamanua kemudian datang membujuk Lumalundung untuk tinggal bersamanya. Mamanua kemudian memperistrikan Lumalundung dan memperoleh anak yang diberi nama Walansendow.
Waktu terus berjalan, suatu ketika saat Lumalundung sedang menyusui Walansendow, Mamanua melihat banyak kutu di kepala istrinya. Tanpa disuruh, Mamanua langsung mencari kutu, bahkan mencabut tiga helai rambut Lumalundung. Sebenarnya hal ini tidak boleh terjadi karena merupakan pantangan bagi Lumalundung. Bekas rambut yang tercabut itu langsung mengeluarkan darah tanpa henti. Mamanua bingung langsung berlari keluar rumah. Nah di saa itu Lumalundung menemukan sayapnya yang hilang. Lumaundung langsung memakainya dan terbang ke angkasa. Kepergian Lumalundung merupakan suatu kesedihan yang mendalam bagi Mamanua dan Walansendow.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

cerita LEGENDA MINAHASA tentang Burung Taong dan ngulngul

Ini cirita ini kwa da terjadi waktu doloe kala,. waktu itu tu binatang2 di MINAHASA masih pe banya skalee,. tu yaki2 masih ja bagantong deng tagantong,. wkwkwk di pohong, tu rusa2 masih ja maso desa, deng ni burung2 masih banya ja dapa lia di pohong2 pende di kampung. ini lantarang tu dotu2 doloe masih patuh pa adat istiadat Minahasa yang nda boleh bunung sambarang binatang kalo nda mo makang, ato baganggu pa dorang,,. so lantarang itu tu kehidupan binatang deng manusia aman2 waktu itu,.
kong diantara pe banya binatang di Minahasa ini ada Burung Taong deng Burung Ngulngul dimana dong dua batamang bae. walaupum dong dua beda skalee,. burung taong pe badang pe basar skalee depe bulu pe panjang kong pe ribut skalee kalo ada dia,. sedangkab bu burung ngul2 depe badang pe kacili deng depe silulan pe plang mar merdu,. mar koman pa dya ada tu mahkota di kapala yang beking depe muka lebe gaga dari ni burung taong
lantarang batamang bae, dong dua biasa ja baterbang sama2, makang sama2 riki tidor sama2,. kong ada suatu ketka waktu dorang dua ada batera di pohong bringin.,

okayBurung Taon

Burung Taong: burung Bayang/ngul2,. nga pe mahkota rupa gagah kank?
Burung Ngul2: qyp so?
Burung Taong: boleh qt mo pinjang? satu hari jow,. supaya qt kwa dapa lia lebe parlente, nech kang tong 2 batamang bae toch?
Burung Ngul2: sebenarnya qt nda mo kase kwa,. mar nga so samadeng tape sudara, ambe jo dang ni mahkota, mar inga cuma satu hari neh,. sepulang beso pagi JANG LUPA,. dia langsung kase dekat depe kapala kong kase pindah tu mahkota yang ada pa dia pi pa Burung Taong
Burung Taong: thanks ,. neh sob,.
Burung Ngul2,. sama2 brother
kong kage ni burung taong langsung pigi kase tinggal pa depe tamang di pohong bringin deng depe mahkota baru,.
Dua hari lewat,. ni burung taong nda muncul2,. burung ngul2 so sedih,. sampe so satu minggu lay nda bale2,. sampe ni burung ngul2 so manangis,.
“nguul,. ,ngul,. nguul,. uuU!!UuuU!! tape mahkota,. ”
lantarang so nintau mo bagimana kong dya langsung pi pa Dotu.
waktu pa Dotu pe tampa,.
DOtu co nga lia akang dulu ni burung Taong, napa dya da pinjang tape mahkota mar so nda se pulang2,.
kong kage ni Dotu langsung marah deng kasiang pa burung Ngul2,. dia langsung suruh ni burung Kleak for pangge pa burung Taong,.
Burung Kleak: hoi sob,. nga dotu da pangge, skarang kata nda pake lama,.
Burung Taong: kyapa so Kleak?
Burung Kleak : napa lantarang nga so nda se pulang tu burung Taong pe Mahkota,, kong dia so manangis2 sana,.
Burung Taong: oh io dang,. minjo pigi skarang./
waktu sampe ni dotu so langsung mata bushu akang pa burung taong,. kong dia ba veto,.
Burung Taong kase pulang jo tu burung Kleak pe Mahkota”kata Dotu,. so nimbole kasian Dotu napa so tagepe pa tape kapala”balas Taong,. noch kalo bagitu ngana ambe jow tu Mahkota itu mar nga pe nama jadi burung Koak2,. kong nga so nimbole bilang laeng selain “KOAK2”,. nga cuma muncul tiap Taong n for cuma mo bilang koak2,.
kong ngana burung Ngul2,. lantarang ngape bae hati mar cengeng nga pe nama qt rubah jadi burung Ngul2 yang bae hati,.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cerita Rakyat Minahasa : Legenda Terjadinya Danau Tondano

PADA zaman dahulu di daerah Tondano, Sulawesi Utara, berdiri gunung yang menjulang tinggi. Di lereng gunung itu terdapat 2 kawasan/wilayah, yaitu utara dan selatan. Wilayah Selatan dikuasai oleh seorang Tonaas (Penguasa) yang memiliki putra tunggal yang bernama Maharimbow. Sementara penguasa wilayah utara juga memiliki anak tunggal yang bernama Marimbow.

Penguasa bagia utara diselimuti kerisauan saat memikirkan pewaris tahtahnya nanti, karena anaknya seorang perempuan. Untuk mengatasi hal itu, ia membuat suatu ide yang terasa aneh.

Ia meminta anaknya untuk berpakaian dan berperilaku layaknya laki-laki dan meminta ia untuk tidak menikah seumur hidup. Permintaan Tonaas Utara di setujui dan di ikrarkan dalam upacara adat dihadapan Opo Empung (Tetua).

Apabila sumpah itu dilanggar maka akan terjadi maapetaka yang dahsyat ditanah itu. Sementara itu, rupanya Tonaas wilayah selatan memiliki masalah yang hampir sama. Maharimbow diminta ersumpah untuk tidak menikah selama ayahnya masih hidup.

Pada suatu hari kedua pewaris tahta tersebut bertemu di daerah perbatasan. Maharimbow merasakan bahwa orang yang dilihatnya itu, meskipun berpakaian seorang kesatria tetapi memancarkan kelembutan seorang wanita. Ia menjadi penasaran dan ingin mengetahui orang misterius itu.

Pada pertemuan berikutnya yang dimulai dengan pertengkaran/perkelahian, Maharimbow berhasil membuka tabir bahwa orang misterius itu adalah seoarang perempuan. Dialah Marimbow!

Kemudian mereka berdua saling menaruh hati dan bersepakat untuk menjadi sepasang suami-istri dan bertekad untuk mempersatukan kedua wilayah tersebut.

Namun, mereka tida menyadari bahwa mereka telah melanggar sumpah yang telah mereka Ikrarkan.

Keesokkan harinya, tiba-tiba terjadi gempa dan gunung meletus yang begitu dasyat sehingga memusnakan daerah itu dengan bebatuan dan larva dan berubah bentuk menjadi suatu kubangan besar yang akhirnya menjadi danau yang kita kenal sekarang dengan nama danau Tondano.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cerita Rakyat Minahasa GUNUNG LOKON DAN GUNUNG KLABAT

Cerita Rakyat Minahasa GUNUNG LOKON DAN GUNUNG KLABAT

GUNUNG LOKON DAN GUNUNG KLABAT
Pada zaman dahulu kala, bumi penuh dengan gunung dan pegunungan.Demikian pula daerah Minahasa, diliputi gunung-gunung yang tinggi dan rendah.Gunung-gunung yang ada antara lain Kelabat, Soputan, Lokon, Dua Sudara, Mahawu, Tampusu, Tolangko, Kaweng, Simbel, Lengkoan, Masarang, dan Kawatak. Pegunungan yang ada antara lain Lembean, Kalawiran, dan Kumelembuai.
Nama gunung dan pegunungan sering disesuaikan dengan sifat yang biasa terjadi di gunung itu, misalnya Gunung Mahawu sifatnya sering mengeluarkan abu. Adakalanya gunung diberi nama orang, seperti Gunung Soputan. Ada pula nama yang diberikan sesuai keadaannya, misalnya Gunung Dua Sudara.
Sesuai namanya, Gunung Lokon berarti yang tertua dan terbesar. Pengertian lain ialah orang yang sudah tua, bahkan tertua da berbadan besar. Dalam bahasa daerah disebut Tua Lokon atau Tou Tua Lokon, artinya orang yang sudah tua.
Konon, gunung dan pegunungan itu ada penghuninya.Gunung Lokon dihuni Makawalang.Ia sungguh berbahagia karena hidup aman sejahtera di tempat itu tanpa gangguan.
Akan tetapi, pada suatu hari ia disuruh pindah tempat karena didesak orang lain yang merasa lebih berhak tinggal di situ. Penghuni itu bernama Pinontoan dengan istrinya bernama Ambilingan.Makawalang tidak bisa berbuat apa-apa.Ia menyerah dengan hati sedih. Alasan untuk membela diri tidak mungkin didengar Pinontoan.Akhirnya, dengan sedih dan kecewa Makawalang mengambil keputusan untuk segera meninggalkan tempat itu.Ia berjalan menerobos pohon-pohon besar sambil menuruni bukit mencari tempat lain.
Tiba-tiba Makawalang berhenti.Tampak olehnya sebuah.Ia pun masuk ke dalam gua itu hingga jauh ke dalam.
“Apakah yang akan kuperbuat di sini?Ah, lebih baik aku dirikan rumah di sini.” pikir Makawalang.
Ia menancapkan tiang-tiang besar penyangga tanah agar bumi jangan runtuh menindihnya. Ia juga memelihara babi hutan. Hiduplah ia dengan bebas dan bahagia, tidak ada orang yang dapat mengusiknya lagi.
Akan tetapi sayang, jika babi hutan-babi hutan itu menggosok-gosokkan badan mereka ke tiang penahan bumi, terjadilah gempa bumi.Gerakan atau getaran bumi itu terjadi secara mendadak.Apabila babi hutan kecil yang menggosokkan badannya, gempa itu tidak begitu terasa karena gerakan mereka lemah.Sebaliknya, jika babi hutan besar menggosok badan, biasa disebut kantong, gerakan gempanya keras dan besar.Itu berarti, mereka tidak hanya menggosok-gosokkan badan, tetapi juga bersuir-suir (mengorek-ngorek tanah).Di bumi bisa terjadi kerusakan rumah dan jembatan, bahkan dapat menyebabkan tanah longsor dan gelombang pasang.
Untuk meredakan gempa bumi itu, orang-orang di kampung yang berada di atas bumi harus menyembunyikan atau memukul tongtong, buluh, atau barang apa saja. Mereka juga harus berseru, “Wangko!Tambah hebat lagi!”Maksudnya untuk mengolok babi hutan-babi hutan Makawalang supaya berhenti menggosok.
Menurut cerita, pada mulanya Gunung Lokon adalah gunung tertinggi dan terbesar di Minahasa ataiu biasa disebut Malesung.Karena tingginya, jarak antara puncak Gunung Lokon dan langit hanya setangkai sendok.Tidak ada gunung di Minahasa dapat menyainginya.
Selain Gunung Lokon, terdapat pula Gunung Kelabat yang dahulu disebut Kalawat. Gunung ini rendah.Penghuni Gunung Kelabat ingin agar tempat tinggal mereka lebih tinggi dari Gunung Lokon.Kemudian, pergilah mereka menjumpai Pinontoan dan Ambilingan, memohon agar sebagian tanah Gunung Lokon ditambahkan ke Gunung Kelabat.
Karena sangat murah hati dan tidak kikir, Pinontoan dan Ambilingan memberikannya.Mereka tidak menyesal sebagian tanah Gunung Lokon diberikan kepada Gunung Kelabat.
Dengan penuh semangat, penghuni Gunung Kelabat memotong puncak Gunung Lokon.Tanah yang mereka ambil itu diangkut dan dibawa ke Gunung Kelabat.Mereka pun menimbun Gunung Kelabat dengan tanah dari Gunung Lokon.
Akan tetapi, banyak sekali tanah yang tercecer di sekeliling Gunung Lokon.Tanah yang tercecer ini membentuk gugusan gunung, seperti Gunung Kasehe, Gunung Tatawiran, dan Gunung Empung.
Sebelum mereka tiba di Gunung Kelabat masih banyak lagi tanah yang tercecer.Gumpalan-gumpalan tanah itu membentuk Gunung Batu Angus dan Gunung Dua Basudara.
Akhirnya, Gunung Lokon menjadi lebih rendah dari Gunung Kelabat.Sekarang, puncak Gunung Lokon tidak ada lagi karena sering meletus dan menjadi rendah.Sebaliknya, Gunung Kelabat sekarang ini menjadi gunung tertinggi di Minahasa.

Kesimpulan :
Cerita ini tergolong dalam dongeng karena sebenarnya cerita ini hanyalah khayalan semata. Dongeng ini memberi pelajaran kepada kita bahwa kebaikan yang diberikan kepada orang lain tidak selamanya menguntungkan diri sendiri. Selain itu, jika kita mengalami kesulitan janganlah berputus asa, tetapi kita harus tetap berusaha.

Posted in Uncategorized | Leave a comment