KISAH TOAR LUMIMUUT PERLU DIKAJI BAGIAN DONGENGAN DAN SEJARAH

KISAH TOAR DAN LUMIMUUT

Mengenai leluhur orang Minahasa ini muncul belasan Versi, beberapa Versi yang sudah umum di publikasikan di jaman belanda adalah Versi Tuis yang dibawa oleh Toar dan tongkat dibawah Lumimuut, kemudian saat ketemu mereka sudah tak saling kenal. Versi ini saya anggap dongengan tidak mendidik dan sangat bertentangan dengan etika moral ytang di pegang orang Minahasa dalam hal pernikahan keluarga. Sangat jelas pernikahan antara mereka yang sepupuh, atau cucu bersaudara sangat dilarang di Minahasa, jadi bagaimana bisa cerita tersebut menjadi cerita yang masuk akal digunakan di Minahasa.

Saya memberikan kisah Versi yang lain yang di kumpul dari berbagai sumber dimasa lalu yang tidak di beritahukan pada para penulis Eropah.

Saya David DS Lumoindong menyertakan juga komentar oleh Capt. A.H.Tumbel /MasterMarinir
Versi-2 dari Tombulu :
1. Adalah sekelompok besar keluarga pelaut yang mendarat disebelah barat tanah Malesung yang terletak disebelah barat laut tanah Minahasa sekarang.
2. Pemimpin keluarga itu bernama Ratu Sumilang (Istilah Ratu disini sudah menunjukkan adanya pengaruh Hindu) dan Ia diikuti oleh Walian Karema (=Pendeta wanita agama Alifuru) beserta anak gadisnya bernama Lumimu’ut ; Selanjutnya diceritakan bahwa Lumimu’ut menikah dengan Raja Sumendap. Pengertian kata Malesung sebagai “Tu’ur in Tana” mengartikan Pangkal atau Pasak Bumi ataupun Pusat Bumi yang filosofinya sama dengan kebudayaan China “Zhonggoan” atau “Tionggoan” atau lain kata dari “Tiongkok” yang berarti “Pusat dunia” sehingga sangat mungkin adanya pengaruh Mongol didalam kebudayaan orang Minahasa, akan tetapi mereka tidak bergerak secara langsung dari daratan China ke tanah Minahasa, karena pasti mereka akan tersangkut terlebih dahulu di Kalimantan ataupun di kepulauan Filipina yang telah membungkus tanah Minahasa seperti perisai. Sejarah jelas menerangkan bahwa penduduk di Kalimantan dan bahkan di Sumatera berasal dari dataran tinggi Yunan di Vietnam, dan Bangsa Indo-China di Vietnam ini jelas berasal dari China dan termasuk didalam Ras Mongoloid.
Kebudayaan Malesung menurut penulis adalah kebudayaan Pra-Hindu, yang tidak mengenal istilah Raja, tetapi mereka lebih mengenal Datu atau Dotu ; Jadi mereka termasuk didalam masyarakat Proto-Melayu.
Kesimpulan penulis : Bahwa versi Tombuluk ini tidak memberikan isyarat kalau berasal dari daerah manakah nenek moyang orang Minahasa pada awalnya ; Apalagi diceritakan bahwa puteri dari Lumimu’ut yang bernama Lingkanbene menikah dengan orang Italia bernama Arunz Crito ; Cerita ini dengan demikian semakin bias, karena sejarah dunia menyatakan bahwa Negara Itali baru muncul setelah Romawi Barat runtuh, jadi disekitar abad ke-12 ; Dan belum ada catatan sejarah expedisi Italia yang tercatat menuju Indonesia. Kalau kita bandingkan dengan kebudayaan di Filipina selatan dimana Dewa perempuan atau Dewi disebut sebagai “INGKANTO” maka jelas terlihat bahwa masih lebih dekat dengan sebutan Lingkan, atau Pingkan dan bahkan Ingkan ; Sehingga bisa menjadi isyarat akan adanya pengaruh dari Utara yang datang belakangan, akan tetapi ceritera yang lebih tua mengisyaratkan bahwa mereka berasal dari arah Barat tanah Minahasa sesuai Lagenda Versi-1 dimuka, jadi bukan berasal dari Filipina.

Versi-3 dari Tonsea :
1. Diwilayah ini dizaman dahulu kala pernah terjadi air bah besar (=sangat mungkin terjadi Tsunami besar) ; Manusia dan makhluk hidup lainnya musnah, dan yang selamat adalah Karema yang sempat mencapai salah satu puncak bukit yang berada didekat pantai beserta sejumlah binatang liar dan burung2. Sekonyong-konyong terlihat ada perahu yang terkatung-katung diair laut yang ternyata ditumpangi oleh seorang wanita mudah yang sedang dalam keadaan hamil ; Perahu itu tadinya memuati satu keluarga besar, tetapi telah menjadi korban keganasan air bah. Karema menerima wanita itu yang kemudian memberi nama Lumimu’ut yang artinya adalah si-cantik yang berhasil menyelamatkan diri dari musibah.
2. Karema hanya hidup bersama binatang2 liar dan burung2, sehingga Ia telah mempelajari tanda2 beserta isyarat2 yang diberikan oleh binatang2 itu, terutama mengartikan bunyi dari burung Manguni atau burung Wala sebab Karema pada sebenarnya adalah seorang Walian wanita atau Pendeta agama Malesung yang oleh orang Belanda disebut sebagai Alifuru.
3. Setelah itu Lumimu’ut melahirkan seorang bayi laki2 yang diberi nama Tou-Aru dan selanjutnya nama itu berubah menjadi Touar yang berarti “Pemberani yang berperisai”.
4. Setelah berakhirnya air bah besar yang berlangsung cukup lama, maka mereka mencari tempat asal mereka yang disebut “Tu’ur-in tana” (=Pusat Dunia) yang disebut sebagai Mah-Watu. Ternyata ditempat tersebut telah hancur berantakan, dan yang tersisa hanyalah sebatang pohon Malesung, yaitu pohon berkayu keras yang sangat baik untuk dibuatkan rumah ataupun perahu.

Versi-3 dari Dr.N.Adriani :
1. Pada mulanya ditengah laut terdapat batu karang besar, yang disinari matahari hingga mengeluarkan keringat lalu menimbulkan busa, yang oleh tiupan angin, busa itu menggumpal dan membentuk sebutir telur.
2. Oleh panasnya sinar matahari maka menetaslah telur itu yang memunculkan seorang anak perempuan, dimana anak itu hidup dari angin sehingga menjadi besar.
3. Ketika Ia menjadi dewasa diatas batu karang itu, tiba2 Ia bertemu dengan seekor burung gagak yang sedang menggenggam sepotong ranting ; Lalu Ia ditolong oleh si Burung Gagak untuk dapat mengambil segenggam tanah dari Pulau Sosiru/Nyiru (=Rijstwan) yang berada diseberang dari batu karang dimana Ia berada.
4. Setelah Ia kembali keposisi batu karang, maka dihamburkan genggaman tanah yang Ia bawa dari pulau Sosiru, dimana tanah tersebut berkembang menjadi daratan Minahasa.
5. Selanjutnya Si Wanita yang tidak diberitahukan namanya itu naik keatas sebuah gunung tinggi yang terletak diselatan tanah Minahasa, dan membiarkan dirinya ditiup oleh “Angin Barat” hingga Ia mengandung dan melahirkan anak laki2 yang pada akhirnya setelah sang anak itu menjadi dewasa, maka mereka berpisah dan bertemu kembali lalu menikah. Demikianlah bentuk cerita selanjutnya yang sesuai dengan legenda2 dari versi2 lain, hanya nama2 tidak disebutkan dalam legenda ini.

Versi-4 dari Ratahan :
1. Pada suatu waktu yang lampau terjadilah air bah besar dikawasan Malesung, dan ketika itu ada seorang Wanita bernama Karema yang sedang menyelamatkan diri diatas puncak gunung yang tinggi. Air bah tersebut naik terus sehingga daratan yang ada digenanginya semua, akibatnya Karema menjadi ketakutan, lapar lalu pingsan.
2. Sewaktu pingsan itu Karema bermimpi bahwa air bah telah redah dan surut, lalu Ia turun dari tempat perlindungannya, dan menemukan jalan yang berujung kesuatu kebun yang banyak tetanamannya ; Disitu Ia mendapatkan buah semangka, lalu memakannya untuk menghilangkan rasa laparnya.
3. Setelah selesai makan datanglah yang empunya kebun untuk mengambil buah samangkanya, dimana Karema sudah bersembunyi dibalik pohon semangka tersebut. Sewaktu akan dipotong buah itu, tiba2 Karema berteriak agar jangan dipotong karena Ia berada didalamnya.
4. Selanjutnya pemilik kebun menanyakan perihal keberadaannya dikebun itu, dan diceritakan bahwa Ia sedang menyelamatkan diri dari air bah, lalu sampailah dikebun ini dan karena merasa sangat lapar maka dipetiknya buah semangka itu dan dimakannya.
5. Pemilik itu menyatakan bahwa Karema berasal dari dunia bawah, sehingga karena itu Ia harus dibawa menghadap Raja Konoan, dan dikatakan bahwa manusia2 didunia bawah telah melakukan durhaka dan melawan Motuntu (=Yang Maha Tinggi) sehingga kalian dihukum dengan air bah yang menenggelamkan kelaut, tetapi untuk kamu, tidak usah takut lagi dan karena itu engkau harus kembali ketempat asalmu, dimana engkau akan bertemu dengan Timuleng dan temannya Rumuat ; Bila engkau telah bertemu dengan mereka maka sampaikan petunjukku agar mereka mengadakan ibadah (=mutogoi) kepada Motuntu dan memberikan persembahan (=musiwi). Setelah itu Karema terbangun dari tidurnya dan ternyata air bah telah hilang, sehingga Ia mencari tempat tinggalnya.
6. Dalam pertemuan antara Karema dan Timuleng serta Rumuat didalam suatu mimpi, Karema ditanyakan oleh Timuleng kalau siapakah lelaki yang telah menghamilinya?, tetapi Karema tidak memberitahukan kepadanya, sehingga karena marahnya Timuleng menyatakan bahwa semenjak hari ini namamu bukan lagi Karema (yang berarti Terang), tetapi Limimu’ut (yang berarti engkau harus menanggung kesulitan rumah tangga).
7. Selanjutnya Lumimu’ut melahirkan anak lelaki yang diberi nama Toar (Yang artinya Angin Badai).
8. Ceritera selanjutnya sama seperti versi-1 dimana mereka berpisah dan setelah bertemu, mereka menikah karena ukuran batang tu’is-nya sudah tidak sama panjang lagi…. dst.

Demikianlah ke-empat versi yang kami pilih untuk dianalisa tentang negeri asal dari nenek moyang orang Minahasa. Kesimpulan dari ceritera ini adalah isinya telah dipengaruhi ajaran agama Hindu dan agama Kristen karena ada istilah dunia atas dan dunia bawah serta pengaruh Kristen karena adanya perintah melaksanakan Ibadah dan persembahan serta dosa dan penghukuman, dan diawal ceritera ini tidak ada isyarat yang mengindikasikan dari arah mana mereka berasal, tetapi Karema sudah berada ditanah Malesung.
Selanjutnya kami akan coba menterjemahkan isyarat2 yang terkandung didalam Legenda Versi-1 yang kelihatannya ada isyarat2 logis yang menunjukkan tentang asal muasal nenek moyang orang Minahasa, dan untuk itu perlu kita tarik unsur2 yang merupakan benang merah dari ceritera itu, sbb :
1. Yang pertama muncul ditanah Minahasa adalah si Wanita yaitu Karema dan Lumimu’ut.
2. Mereka datang lewat air atau lewat laut ; Jadi mereka datang dengan menggunakan kendaraan laut yang sangat mungkin berupa perahu dari batang kayu, dimana mereka terdampar dipantai barat tanah Minahasa yang saya perkirakan adalah salah satu pantai dari antara pantai2 berikut ini, yaitu dari Pantai Poigar, pantai Teluk Amurang, pantai Tumpaan hingga kepantai Tombariri, yang merupakan pantai penghalang gerakan gelombang dan angin yang berasal dari arah Barat atau dari Kalimantan Timur.
3. Arah datangnya mereka adalah dari Barat, berarti mereka berasal dari Kalimantan Timur, dimana hal ini bersesuaian dengan sirkulasi arus tetap di Laut Sulawesi yang berlangsung sepanjang tahun dan merupakan kelanjutan dari arus Equator utara yang datang dari Samudera Pacifik, lalu masuk lewat Laut Filipina, menyusur pantai selatan kepulauan Sulu, lalu membelok kearah selatan disekitar Tarakan, dan menyusur pantai Kalimantan Timur, lalu membelok kearah timur dibagian utara dari Tanjung Mangkalihat dan bergerak kearah timur hingga menabrak tikungan pulau Sulawesi disekitar pantai Buol dan Toli-Toli, lalu menyusur sepanjang pantai utara dari Jazirah Sulawesi Utara dan naik kearah utara di-pulau2 Sangir-Talaud. (Untuk jelasnya agar perhatikan peta arus terlampir). Diwaktu musim angin barat didaerah ini yakni disekitar akhir tahun, maka gelombang yang menuju kearah Timur semakin kuat yang diperkuat lagi dengan adanya hembusan angin Barat yang kencang (yaitu angin yang berasal dari Barat dan menuju kearah Timur sesuai Hukum Buoys Ballot dalam Ilmu cuaca), sehingga sampai sekarang pada musim2 sedemikian kita masih bisa menemukan adanya batang2 kayu besar yang berasal dari Kalimantan Timur yang terdampar disepanjang pantai yang saya sebutkan diatas, dan bahkan batang2 kayu yang berasal dari Kalimantan Timur itu bisa ditemui hingga ke-pantai2 dari pulau Bunaken dan Siladen (yang terletak sekitar 5 mil diutara Manado, yang oleh rakyat setempat batang2 kayu itu dipakai untuk membuat perahu) pada setiap akhir tahun, yakni disekitar bulan2 November, Desember dan Januari setiap tahun.
4. Dari segi bahasa, masih dapat kita temukan adanya persamaan kata2 antara bahasa Dayak Kalimantan Timur dan Bahasa Minahasa, seperti yang telah dikutip diatas sbb :
Bahasa Indonesia Bahasa Dayak Bahasa Minahasa
Makan Kuman Kuman
Dukun Wanita Balian Walian
Orang To (To Nyooi/Kutai Barat) To/Tou (Tolour)
Berburu Mangaso/Mangasu Mangasu
Rakit Gakit Rakit
Ikan Sada Seda’
Kepala Tulu Ulu’
Gigi Nipong Ipeng
Kuku Sendulu Sulu
Bintang Tombituwon Tototiwen
Satu Iso Esa
Dua Duo Rua
Tiga Tolu Telu
Empat Apat Epat
Lima Limo Lima
Enam Onom Enem
Tuju Turu Pitu
Delapan Walu Walu
Sembilan Siyam Siyow
Sepuluh Hopod Mapulu

5. To’ar, dari namanya terlihat berhubungan dengan kata Tu’ur atau Tunggul yang merupakan sisa2 batang kayu yang masih tertinggal setelah pekerjaan merombak hutan untuk membuka pertanian ; Jadi kata Tu’ur berhubungan erat dengan masyarakat pertanian dan sesuai Legenda Versi-1 sub-4 dikatakan bahwa To’ar bekerja sebagai petani, sehingga jelas nama To’ar berhubungan dengan bidang pertanian (Dalam pengertian Tu’ur in Tana atau Tunggul yang masih tertanam ditanah), disamping ia juga berburu, sehingga makin jelas bahwa aktivitas2 dari si To’ar adalah didaratan, dan tidak melakukan pekerjaan menangkap ikan sebagai nelayan dilaut ; Oleh sebab itu Orang Belanda sebelum mengetahui nama Minahasa, menyebut Suku Minahasa sebagai “Petani Gunung” atau “Bergbeoren”. Atas dasar itu saya lebih mempunyai assumsi bahwa Toar sampai didaerah Minahasa dengan berjalan kaki dari daerah Buol/Toli2, sehingga ada nama2 tempat didaerah Buol yang sama dengan nama2 yang ada di Minahasa, misalnya :

Ada desa bernama Pinontoan di Buol (Yang terletak sekitar 3 km dari kota Lakea) ; Sedangkan di Minahasa Selatan ada negeri yang namanya Pinonto’an dimana Toar dan Lumimu’ut pertama kali tinggal ; Dan di Minahasa Utara didaerah Tonsea dan Bantik ada keluarga2 dengan nama fam Pinonto’an ; Jadi tidak mungkin diantara tiga tempat dengan nama yang sama tidak ada pertaliannya diwaktu dahulu.
Didekat Buol/Toli2 ada Pulau yang namanya Talise, demikian juga diutara Minahasa ada Pulau dengan nama yang sama Talise, termasuk di Filipina juga ada pulau dengan nama yang tepat sama. Meskipun nama yang sama terdapat juga di Filipina yang letaknya disebelah Utara Minahasa, tetapi Legenda diatas secara jelas menyatakan bahwa mereka datang dari Barat tanah Minahasa, dan bahkan Lumimu’ut dihamilkan oleh angin Barat dan bukan oleh angin Utara.
Di Buol ada Kampung yang bernama Mokupo, sedangkan didekat Tanawangko ada kampung yang namanya Mokupa ; Jadi jelas disini ada pertalian antara kedua daerah diatas ; Demikian juga deretan daerah2 yang telah mengalami evolusi bahasa dari Buol hingga ke Buolaang Mangondow sbb : Buol – Buolagidun – Buolemo (Diwilayah Gorontalo) – Gunung Buoliohutu – Buola’ang Itang – dan Buola’ang Mangondow.
Disebelah Utara kota Leok yang merupakan Ibu kota Kerajaan Buol terdapat Tanjung Kandi yang artinya Tanjung Ikan Hiu, sedangkan kata Kandi didalam bahasa Dayak Kadazan (=Suku Dayak didaerah Sabah/ Malaysia) berarti Ikan Hiu/shark.

6. Dari adanya sambungan nama2 yang sama dari Barat Jazirah Sulawesi Utara hingga ke Minahasa membuktikan bahwa ada pergerakan migrasi manusia dizaman dahulu, dan perkiraan saya bahwa Toar terdampar didaerah Buol karena terjadinya cuaca buruk akibat tiupan angin Barat yang kencang sewaktu dalam pergerakannya dari Kalimantan Timur, yang mana Ia bertolak dari sekitar pantai utara Tanjung Mangkalihat (yang artinya dari tempat dimana kelihatan karena dari posisi itu terlihat jelas gunung2 yang berada dipulau Sulawesi yakni didaerah Buol dan Toli2, serta jarak dari tanjung tersebut kedaratan Sulawesi hanya sejauh 65 mil atau sekitar 120 kilometer, serta arus dari Tanjung itu tepat mengarah ke Buol), dan selanjutnya To’ar berjalan kearah Timur sesuai Kekuatan arus pergerakan Migrasi ke Timur yang dikenal sebagai “der Drang nach Oosten” menurut Teori dari J.H.J. Alers.
7. Berbeda dengan Lumimu’ut dan Karema yang masih tetap selamat diatas perahu (Lihat Legenda Versi-2 sub-1 yang menyatakan bahwa Lumimu’ut terdampar dengan perahu), sedangkan keluarga2 lainnya telah meninggal, meskipun mereka termasuk keluarga Pelaut, tetapi mereka mengutamakan untuk melindungi para wanitanya.
8. Sewaktu mereka berdiam didaratan Minahasa dan sangat mungkin tidak lagi tinggal ditepi pantai, karena kemungkinan serangan orang lain ditepi pantai lebih besar sebab lokasi pantai lebih terbuka dibandingkan dengan lokasi darat, dan apabila berdiam didaerah pegunungan maka mereka akan bisa mengintai orang lain yang datang dari pantai.
9. Sewaktu Lumimu’ut berdiam didaerah pegunungan Lolombulan yang letaknya tidak begitu jauh dari pantai, maka muncullah Toar yang bergerak kedaerah itu dengan berjalan kaki ; Ingat untuk melihat adanya orang pada waktu itu adalah dengan cara mengamati adanya asap, maka berdasarkan ini kemungkinan besar To’ar melihat adanya asap, sehingga ia mencari tempat tersebut, dan bertemu dengan Lumimu’ut. Dan mereka pada sebenarnya masih berbicara dalam satu bahasa yang sama, karena mereka berasal dari daerah yang sama yakni Kalimantan Timur atau berasal dari suku Dayak. Selanjutnya mereka menetap ditempat yang bernama “Pinonto’an (=Nietakan) dipegunungan Wulur-Mahatus, dan karena terjadi bencana alam maka mereka ber-pindah2 kearah utara dan akhirnya mereka menetap didaerah sekitar gunung Tonderukan, diantara Tumaratas dan Kanonang.
10. Sewaktu mereka berada di Lolombulan yang tidak jauh dari Pantai, mereka kedatangan sekitar dua group perahu dimana masing2 ada 9 orang, dan sesuai dongeng dikatakan bahwa Lumimuut telah melahirkan dua kali kembar sembilan yang disebut sebagai “Se Maka Rua Siyow”. Kemungkinan beranak kembar sembilan pada waktu itu sangat tidak masuk diakal apalagi hingga terjadi dua kali berturut. Selanjutnya mereka kedatangan 3 group perahu dimana satu perahu terdapat satu keluarga dengan jumlah 7 orang, jadi dari 3 perahu terdapat 21 orang, sehingga group2 ini disebut sebagai “Se Maka Telu Pitu”, dan terakhir terdapat satu group didalam satu perahu, tetapi sewaktu mereka turun dari perahu satu persatu, maka burung Manguni memberikan 9 siulan untuk setiap orang yang turun, sehingga group ini dinamakan sebagai “Se Pasiyouwan” dan bukannya Se Maka-Esa ataupun Se Makasa”. Dengan demikian terbukalah sekarang teka-teki kembar sembilan , kembar tujuh dan kembar tiga dari anak2 Si To’ar dan Lumimu’ut, dan mereka inilah yang selanjutnya menjadi cikal bakal Suku ataupun Bangsa Minahasa.
11. Kedatangan Group2 migrasi dari arah barat Sulawesi Utara berlangsung secara ber-gelombang2 dalam waktu yang cukup lama, dan bahkan anak suku Bantik nanti masuk kedaerah Minahasa disekitar abad-16 dan abad-17 dimana menurut penelitian, mereka datang dari daerah Buol, yang sepertinya mereka tinggal berdekatan dengan suku Bajau ; Lokasi2 yang mereka tempati adalah dari Bolaang Mangondow : Semuit dan Tanamon, lalu ke Kalasei, Malalayang, Singkil (dikota Manado), Bailang, Buha, Bengkol, Molas, Meras, dan Talawa’an Bantik. Sesuai penelitian penulis bahwa daerah Mokupo di Buol adalah tempat tinggal orang Bajau, tetapi kampung Mokupa di Tombariri adalah tempat tinggal orang Tombariri dan Bantik yang sangat mungkin dulunya ditempati oleh orang Bajau; Letak dari kampung Talawa’an Bantik didekat Wori berdekatan dengan Kampung orang Bajau yakni Talawa’an Bajau, sehingga saya berasumsi bahwa kemungkinan besar suku Bantik adalah pecahan dari suku Bajau di Buol. Perlu diketahui bahwa orang Bantik menyebut Manado sebagai Manaro’ sama tepat dengan bahasa Sangir, sedangkan orang Minahasa menyebutnya sebagai “Wenang”. Jadi saya menjadi ragu, hingga muncul pertanyaan apakah benar suku Bantik masuk sebagai anak suku Minahasa atau bukan ?? ; Apalagi dewasa ini orang Bantik mengesampingkan penyebutan orang2-nya sebagai suku Bantik, mereka lebih mengedepankan jati dirinya sebagai Bangsa Bantik, yang menurut pengertian saya berarti mereka bukan sebagai anak suku Minahasa, karena dari segi bahasa mereka lebih mendekati ke suku Sangir dari pada kebahasa Minahasa ; Meskipun demikian mereka mengakui bahwa To’ar dan Lumimu’ut adalah moyangnya, sehingga mereka tetap harus dimasukkan sebagai anak suku Minahasa.
12. Karena semakin lama semakin banyak jumlah keturunan dari orang2 Minahasa, maka mulailah terjadi pertikaian diantara para group karena terjadinya perselisihan perbatasan2 daerah pertanian, yang menimbulkan perkelahian dan bahkan saling bunuh-membunuh, sehingga para Tua’um Banua atau para kepala kampung masing2 berkumpul disuatu tempat lalu melakukan upacara pembagian wilayah2 pertanian kepada masing2 Poea’ yang pada waktu itu baru terdiri atas 4 Poea’ yaitu Tonsea, Tombuluk, Tountumaratas dan Tountemboan. Tempat mereka melaksanakan Minhasa Pertama (=Rapat Penyatuan Pertama atau Minahasa-I) disebut sebagai “Watu Pinawetengan” (=Batu tempat diadakan pembagian tanah Minahasa).
13. Selanjutnya rapat2 sedemikian selalu diadakan apabila para pemimpin2 Pakasaan menghadapi permasalahan2 sehingga perlu dibicarakan dalam rapat bersama untuk menetapkan tindakan bersama apa yang harus diambil ; Dengan demikian maka semenjak dahulu kala orang2 Minahasa sudah mempunyai sistim pemerintahan daerah otonom yang demokratis melalui rapat2 Mina-Esa yang belakangan disingkat menjadi Minahasa. Dari penelitian ini membuktikan bahwa diseluruh Minahasa tidak dikenal bentuk pemerintahan Kerajaan, sehingga jelas terbukti bahwa pengaruh Hindu tidak masuk kedaerah ini diawal migrasi, yang berarti Majapahit tidak pernah sampai didaerah ini, karena tidak ada satupun legenda kuno di Minahasa yang pernah menceriterakan tentang keberadaan Kerajaan Majapahit, selain kami mengetahui kerajaan ini dari pelajaran2 sekolah yang kebenarannya masih perlu dipertanyakan.
14. Bentuk2 komunitas yang terdapat diseluruh Minahasa adalah sbb :
1). Awu = Rumah Tangga à Dikepalai oleh Ama atau Amang, yang berarti Ayah.
2). Taranak = Ro’ong àDikepalai oleh Tua’ in Taranak atau Kepala Taranak.
3). Wanua = Negory = Kampung à Dikepalai oleh Tua’ um Banua atau Ukung Tua.
4).Pakasa’an = Walak = Distrik à Dikepalai oleh Kepala Walak = Ukung Besar atau Ukung Major.
5). Poea’ à Merupakan satu wilayah dengan dialek bahasa yang sama, misalnya : Poea’ Tonsea ; Poea’ Tombuluk ; Poea’ Toulour ; Poea’ Tonsawang ; Poea’ Tountemboan ; Poea’ Panosakan ; Poea Pasan dan Poea Bantik ; Komunitas ini tidak ada pemimpinnya karena bukan merupakan wilayah pemerintahan.
6). Rapat Persatuan Minahasa à Dipimpin oleh seorang Tona’as Wangko, tetapi tidak dalam bentuk pemerintahan, dimana Tona’as hanya memimpin sewaktu rapat Minahasa berlangsung, jadi apabila rapat selesai maka kedudukan pimpinan rapat selesai juga, terkecuali bila terjadi perang dengan bangsa lain seperti halnya sewaktu pecah perang Tondano ke-3 dengan Belanda, dimana Ukung Lonto dari Tomohon dipilih menjadi Tona’as Wangko berdasarkan keputusan rapat Minahasa yang dilakukan di Aermadidi Tonsea, dimana Ia memimpin pertempuran dan menjadi pemimpin selama perang berlangsung (1807 – 1809), hingga Ia dibuang oleh Belanda ke Ternate dan wafat disana.

15. Demikianlah uraian tentang asal usul Suku Bangsa Minahasa melalui penter-jemahan isyarat2 dari Legenda2 yang berserakan diseluruh anak2 suku Minahasa, semoga bermanfaat, dan sangat diharapkan adanya sanggahan2 berdasarkan bukti2 yang sahih sehingga kita anak2 keturunan Toar dan Lumimuut bisa mendasarkan asal-usul kami berdasar atas argumen2 yang logis dan dapat dipertanggung jawabkan, demi kemajuan bangsa ini.

Jakarta, 23 Januari 2006

CAPT. A.H.TUMBEL
(MASTER MARINER).

Watu PINAWETENGAN Watu Pinawetengan adalah sebuah situs batu megalitikum berukuran besar berbentuk unik dengan tulisan dan torehan yang sampai sekarang masih belum bisa diurai maknanya, namun dipercaya sebagai situs yang sangat bersejarah dan berpengaruh bagi kehidupan masyarakat Minahasa. Situs Watu Pinawetengan ini disimpan di dalam sebuah cungkup di lereng Gunung Soputan, Desa Pinabetengan, Kecamatan Tompaso, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Belokan yang menuju ke arah Watu Pinawetengan dari Jalan Minahasa – Langowan, yang saat itu tertutup karena tengah dalam perbaikan. Perbaikan jalan ini tampaknya berkaitan dengan sebuah acara yang akan diselenggarakan pada 7 Juli lalu di Watu Pinawetengan. Lokasi belokan ada pada posisi GPS: 1.19522, 124.79406.
Mobil pun lalu berjalan terus ke arah selatan sejauh beberapa puluh meter sampai menemukan belokan ke arah kanan, sebagai jalur alternatif menuju ke arah Watu Pinawetengan.

Toar dan Lumimuut, walaupun keduanya tidak boleh tinggal di dalam istana. Itu sebabnya setelah menikah, Toar dan Lumimuut bersama beberapa pengikut di antaranya seorang Walian (pemimpin agama) yang bernama Karema, Tonaas (pemimpin), Waraney (prajurit pemberani) dan beberapa rakyat biasa (petani), merantau dengan mengarungi lautan hingga tiba di pantai ujung utara Pulau Sulawesi dan berlabuh di tempat yang dinamakan Tinumpaan/Tumpaan, artinya tempat yang dituruni.
Dari Tumpaan mereka melakukan perjalanan ke arah barat hingga tiba di suatu dataran luas yang di tengahnya terdapat sebuah danau besar yang dinamakan Bulilin, artinya dipenuhi air, diapit oleh dua buah gunung, yaitu Gunung Soputan, artinya perkasa, dan Gunung Wulur Mahatus, artinya pegunungan seratus. Di tempat yang baru, Walian Karema mulai mengatur tempat pemukiman di empat lokasi, yaitu bukit Batu, Powod, Abur, dan Kali.
Perkawinan Toar dan Lumimuut, dikaruniai banyak anak (F.S Watuseke, Op.Cit, 1962). Kehamilan pertama dan kedua Lumimuut melahirkan dua kali kembar sembilan, sehingga anak–anak itu di namakan Se Makarua Siow (2×9). Kemudian saat melahirkan ketiga, keempat dan kelima, seluruhnya kembar tujuh dan anak-anak itu dinamakan Se Makatelu Pitu (3×7). Pada kelahiran yang keenam dan ketujuh, Lumimuut memperoleh kembar tiga. Namun anak-anak itu bukan dinamakan Se Makarua Telu (2×3) melainkan Se Pasiowan Telu, karena setiap kali anak-anak itu dilahirkan, disambut dengan siulan burung Manguni sebanyak sembilan kali. Kelompok Makarua Siow kemudian menjadi Walian, Makatelu Pitu menjadi Tonaas dan Pasiowan Telu, menjadi rakyat biasa.
Adapun empat buah perahu yang menyusul rombongan Toar dan Lumimuut, konon dua di antaranya berlabuh di Kema, kemudian mendirikan pemukiman di Minawerot, Kumelembuay dan Kalawat (Klabat). Satu buah perahu berlabuh di Atep. Mereka menuju ke sebelah barat dan menjumpai sebuah danau besar yang berada di tengah dataran tinggi dan memutuskan untuk bermukim di situ lalu mendirikan pemukiman Tataaran, Koya, Tampusu (Remboken) dan Kakas. Namun beberapa di antaranya, menyusuri pesisir pantai ke arah selatan hingga tiba di Bentenan dan sebahagian lagi di antaranya menuju ke sebelah barat lalu mendirikan pemukiman Tosuraya. Sedangkan satu buah perahu berlabuh di Pogidon kemudian mendirikan pemukiman Singkil dan Malalayang di sekitar Gunung Bantik.
Ketika penduduk di sekitar Danau Bulilin terus bertambah banyak, para Tonaas, Walian dan Potuusan berinisiatif mengadakan musyawarah untuk membicarakan tentang (Tumani) penyebaran penduduk ke berbagai penjuru di tanah Malesung. Tumani inilah yang dikatakan H. M. Taulu (Op. Cit, 1955) sebagai pemancaran pertama orang Minahasa. Di tempat yang baru, mereka bertemu dengan orang-orang lain yang bukan sekaum Taranak. Di antara turunan mereka, terjadi perkawinan campur sehingga dengan semakin banyaknya Taranak-taranak, maka terciptalah wanua (negeri).
Sebagaimana ketentuan adat, golongan Pasiowan Telu diwajibkan melakukan pekerjaan-pekerjaan untuk kepentingan umum dan pinontol (bekerja kepada para pemimpin), seperti menanam dan menuai. Selain itu diwajibkan membagi hasil pertanian, peternakan maupun perburuan mereka kepada golongan Makarua Makasiow dan golongan Makatelu Pitu serta melakukan ketentuan-ketentuan adat misalnya mempersiapkan kurban persembahan setiap dilangsungkan ritual poso negeri dan menjaga keamanan negeri secara bergiliran (Drs. R. E. H. Kotambunan,Minahasa II & III, 1985).
Sekitar abad ke-5 terjadi pemberontakan dan peperangan dari golongan Pasiowan Telu karena tuntutan mereka agar tanah-tanah adat sebagai lahan pertanian yang sebagian besar sudah di-apar (diolah) sebagai milik golongan Makarua Siow dan Makatelu Pitu agar dibagi secara adil, menuntut agar sistem pengangkatan pemimpin tidak lagi bersifat otoritas golongan Makarua Siow dan golongan Makatelu Pitu, melainkan harus dipilih dari seluruh anggota masyarakat, tidak dikabulkan dengan alasan tidak sesuai dengan ketentuan adat.
Melihat peperangan antar Walak (kelompok Taranak) terus berlangsung, tahun 670, beberapa Walian dan Tonaas menyadari akan pentingnya suatu musyawarah di dalam usaha menciptakan kembali akan persatuan dan kesatuan yang berlangsung di sekitar kaki Gunung Tonderukan. Di tempat itu, terdapat sebuah batu “Tumotowa” tempat pelaksanaan ritual poso (J. G. F. Riedel, The Minahasa, 1862). Kendati berlangsung alot, namun musyawarah yang dipimpin oleh Tonaas Kapero yang berasal dari kelompok Pasiowan Telu bersama Muntu Untu dari golongan Makarua Siow sebagai panitera/notulis dan Mandey sebagai saksi, berhasil mencapai beberapa kesepakatan penting, di antaranya:
– Menerima penetapan pembagian pemukiman setiap kaum Taranak
– Setiap kaum Taranak dapat mengembangkan ketentuan adat dan ritual yang tetap berlandaskan kepercayaan terhadap Empung Walian Wangko (Tuhan Yang Maha Agung) dan opo (leluhur).
– Setiap kaum Taranak dapat mengembangkan bahasa sesuai kehendak masing-masing, namun semuanya tetap mengaku sebagai satu Kasuruan, yang tidak dapat dicerai-beraikan oleh siapapun.
Selanjutnya pembagian wilayah pemukiman diatur sebagai berikut :
1. Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Mapumpun, Belung, dan Walian Kakamang menuju sekitar Gunung Lokon dan bermukim di Mayesu, dekat Kinilow dan Muung. Mereka disebut Tou Muung kemudian menjadi Tomohon. Mereka dinamakan Tombulu.
2. Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Walalangi dan Walian Rogi menuju ke Niaranan dan Kembuan (Tonsea Lama). Sebagian lagi mendirikan pemukiman di sekitar Gunung Kalawat (Kalabat). Mereka disebut “Tou Un Sea” (Tonsea)
3. Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Karemis dan Piay, pergi ke arah barat dan menyebar ke Tombasian, Kawangkoan, Langowan, Rumoong (Tareran) dan Tewasen.
4. Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Pangemanan, Runtuwene dan Mamahit, menuju ke Kakas, Atep dan Limambot. Mereka dinamakan Toulour.
5. Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Wuntu, menuju ke Bentenan. Sebagian lagi mendirikan pemukiman di Ratan. Mereka disebut Ratahan. Yang menuju ke Towuntu (Liwutung), mereka disebut tou Pasan. Beberapa di antara tou Pasan mengadakan tumani dan bermukim di Tawawu (Tababo), Belang dan Watuliney, membaur dengan penduduk dari Taranak Ponosakan, yaitu keluarga Butiti, Wumbunan dan Tubelan yang datang dari Wulur Mahatus (Pontak). Mereka disebut tou Ponosakan.
6. Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Kamboyan, menuju ke dataran sekitar Danau Bulilin, tempat asal mereka semula dan mendiami pemukiman di Bukit Batu, Kali dan Abur. Mereka disebut Toundanouw, artinya orang yang tinggal di sekitar air. Kemudian bangsa Belanda menamakan mereka Tonsawang, artinya orang yang suka menolong.
7. Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Angkoy dan Maindangkay menuju ke arah barat hingga tiba di sekitar Gunung Bantik dan mendirikan pemukiman Malalayang. Beberapa di antara mereka pergi bermukim di Pogidon dan Singkil. Karena bermukim di sekitar Gunung Bantik, mereka dinamakan tou Bantik.
Adapun salah satu keputusan penting dari musyawarah di batu ‘’Tumotowa’’ yaitu pembagian wilayah, sehingga batu itu dinamakan ‘’Watu Pinawetengan’’, artinya batu tempat pembagian. Dalam perjalanan sejarah ternyata perang antar anak suku di Malesung masih sering terjadi, sehingga 1428 para pemimpin Minahasa kembali mengadakan musyawarah di sekitar Watu Pinawetengan. Adapun keputusan yang dicapai dalam musyawarah, yaitu: nama ‘’Malesung’’ diubah menjadi ‘’Minahasa’’, berasal dari kata esa (satu), diberi awalan ma dan sisipan in, maka terbentuklah kata ‘’Maha Esa’’ (menyatukan), kemudian menjadi ‘’Minahasa’’ (Dr. Godee Molsbergen, Geschiedenis Van De Minahasa, 1929), artinya yang menjadi satu, yaitu menyatukan seluruh anak suku Minahasa: Tontemboan, Tombulu, Tonsea, Toulour, Pasan, Ratahan, Ponosakan, Tonsawang dan Bantik.
Mengacu dari uraian di atas, itu berarti bahwa anak suku Patokan yang mendiami wilayah Minahasa Tenggara yang selama ini terkesan adalah pendatang baru, merupakan suatu kekeliruan, tetapi mereka adalah bagian dari satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan anak suku Minahasa lainnya.
Dalam Pusaran Peperangan
Tahun 1639 armada Spanyol memasuki pelabuhan Amurang. Di sana mereka melihat penduduk setempat memakan nasi. Mengetahui sumbernya berasal dari Tonsawang, bangsa Spanyol menuju ke sana dan menyaksikan betapa hasil beras dan hutan berlimpah. Penduduk Tonsawang ketika itu dipimpin oleh Ukung Oki. Kemudian bangsa Spanyol menjalin hubungan dagang dengan cara tukar-menukar (barter). Semula bangsa Spanyol menunjukkan sikap bersahabat sehingga mereka diterima oleh penduduk pribumi, bahkan atas seizin Ukung Oki mereka diperkenankan mendirikan tempat penginapan di dekat bukit Kali. Tidak berselang lama, mereka berubah merasa berkuasa, menghina, dan memperkosa wanita setempat, hingga merampas harta benda. Akibatnya Ukung Oki, segera memanggil panglima perang Lelengboto, untuk melawan orang-orang Spanyol di tempat penginapan mereka hingga terjadi pertempuran dahsyat. Melihat keberanian pasukan Tonsawang, pasukan Spanyol mundur dan lari. Pertempuran dahsyat ini mengakibatkan 40 pasukan Spanyol gugur dan pasukan Tonsawang 29 orang.
Tahun 1644 bangsa Spanyol kembali menduduki Amurang dengan maksud menuntut dan menguasai pembelian beras serta hasil bumi lainnya dari Tonsawang dan Pontak. Penduduk pribumi segera mengangkat senjata lalu terjadi pertempuran yang sengit. Dalam pertempuran itu 100 pasukan Spanyol tertawan dan terbunuh. Melihat keadaan demikian armada Spanyol pimpinan Bartholomeo de Sousa meninggalkan Amurang lalu menuju ke Filipina. Pasukan Tonsawang dan Tontemboan yang gugur antara lain: Panglima Monde gugur sewaktu melindungi istrinya Ukung Oki dan Panglima Worotikan. Atas kemenangan pasukan Ukung Oki, para pemimpin mengadakan musyawarah dan menetapkan memberi gelar kepada Ukung Oki sebagai Ukung Wangko dan Tonaas Wangko (hukum besar dan pemimpin besar) yang memimpin pemerintahan di lima wilayah Walak, yaitu Tombasian, Tonsawang, Pasan Ratahan dan Ponosakan. Benteng Portugis di Amurang dijadikan pusat pemerintahan Tonaas Wangko Oki.
Di dalam menjalankan tugas pemerintahannya, Tonaas Wangko Oki dikenal sebagai pemimpin yang arif dan bijaksana sehingga ia dihormati dan disegani. Walaupun sudah berstatus janda, namun kecantikannya tidak luntur bahkan semakin menarik.
Raja Bolaang Mongondow saat itu, Loloda Mokoagow sangat tertarik dengan kecantikan Tonaas Wangko Oki sehingga ia melamar Tonaas Wangko Oki untuk menjadi istrinya. Lamaran Raja Loloda Mokoagow diterima dengan syarat Raja Loloda Mokoagow menuruti permintaan Tonaas Wangko Oki, yaitu tanah luas yang terhampar dari Sungai Ranoyapo hingga Sungai Poigar sebagai dooho (mas kawin). Hamparan tanah tersebut adalah wilayah yang sudah lama menjadi sengketa antara Minahasa dan Bolmong. Permohonan Tonaas Wangko Oki disetujui Raja Loloda Mokoagow kemudian mereka berdua melangsungkan perkawinan. Dengan ditetapkannya batas antara Minahasa dan Bolmong yaitu Sungai Poigar di sebelah Barat dan Sungai Buyat di sebelah timur.
Setelah kawin dengan Raja Loloda Mokoagow, kepada Tonaas Wangko Oki diberikan gelar ratu karena sudah menjadi istri seorang raja. Sejak itu mereka tinggal dan menetap di Benteng Portugis, kompleks Gereja Sentrum Amurang. Kemudian Raja Loloda Mokoagow mendirikan sebuah pesanggrahan sebagai tempat istirahat di wilayah kerajaannya yang terletak di pelabuhan alam pantai utara. Tempat itu dinamakan Labuhan Oki.
Adapun pemerintahan Ratu Oki terus mengalami kemajuan pesat. Rakyatnya hidup makmur, aman dan tentram, ditopang oleh pasukan keamanan yang kuat. Bahkan kekuatan pasukan keamanan Ratu Oki sampai diketahui Raja Buitenzorg (Bogor) kemudian memohon bantuan agar kiranya dapat mengirim tentara Ratu Oki untuk memperkuat pasukan kerajaan Buitenzorg. Sebagai ucapan terima kasih, Raja Buitenzorg memberikan hadiah berupa uang dan medali sebesar teluritik yang terbuat dari berlian, di dalamnya bertuliskan Hadiah Raja Buitenzorg kepada RatuTonsawang atas bantuan dan jasanya kepada Raja Buitenzorg (P.A. Gosal, Ratu Oki, Srikandi Minahasa 2000).
Perang Patokan Melawan Belanda
Dengan diterimanya kontrak perjanjian 10 Januari 1679 yang dibuat Belanda, itu berarti Minahasa mengakui kekuasaan Belanda. Tetapi para Ukung dari Bantik, Tonsawang, Ratahan, Pasan dan Ponosakan tidak mau menerima perjanjian tersebut. Pihak Belanda beberapa kali mengadakan pendekatan dengan para Ukung di wilayah Patokan agar menerima perjanjian itu seperti halnya dengan para Ukung Minahasa lainnya. Sebagai tindak lanjut dari desakan pihak Belanda, maka pemimpin keempat Walak masing-masing: Ukung Rugian kepala Walak Tonsawang, Ukung Lokke kepala Walak Pasan, Ukung Watah kepala Walak Ratahan dan Ukung Mokolensang kepala Walak Ponosakan, sepekat mengadakan musyawarah, namun keputusannya tetap menolak perjanjian 10 Januari 1679 karena dianggap hanya menguntungkan pihak Belanda. Melihat keteguhan prinsip mereka, pihak Belanda mengutus suatu pasukan di bawah pimpinan Sersan Smith melalui ekspedisi dengan kelengkapan perang melalui dua jalur, yaitu jalan darat dari sebelah utara dan laut melalui pelabuhan Belang untuk menggempur keempat wilayah itu. Walak Ratahan dan Ponosakan mendapat serangan mula-mula. Penduduk mengadakan perlawanan tetapi pasukan Belanda yang menggunakan perlengkapan perang yang modern saat itu, berhasil menghancurkan negeri Ratahan dan korban berjatuhan. Peristiwa yang sama juga terjadi di Ponosakan. 5 orang waraney dari Ratahan dan Ponosakan gugur. Dari Ratahan pasukan Belanda melanjutkan perjalanan menuju ke wilayah Walak Pasan dan Tonsawang. Setiba di Liwutung, pasukan dari Pasan dan Tonsawang langsung menghadang dan mengadakan perlawanan terhadap pasukan Belanda sehingga 40 penduduk bersama 5 orang Waraney gugur. Sejak saat itu wilayah Walak Ratahan, Ponosakan, Pasan dan Tonsawang secara resmi menerima perjanjian dengan Belanda, sama seperti Walak lainnya di Minahasa.
Kabupaten Minahasa Tenggara
Awal perjuangan pembentukan Kabupaten Minahasa Tenggara sudah mulai menggema sejak 1985, ketika anggota DPRD Kabupaten Minahasa saat itu mengadakan kunjungan ke wilayah selatan Kabupaten Minahasa, dimana beberapa tokoh masyarakat setempat mendesak agar Kabupaten Minahasa Selatan segera dijadikan sebagai daerah otonom. Bersamaan dengan itu aspirasi yang berkembang di Kecamatan Ratahan, Belang, dan Tombatu menginginkan agar wilayah itu layak diperjuangkan menjadi Kabupaten Minahasa Tenggara. Melalui sidang pleno DPRD Minahasa pada 11 Oktober 1985, berhasil memutuskan tentang pemekaran Kabupaten Minahasa Tenggara yang mendapat persetujuan dari pemerintah Kabupaten Minahasa saat itu yang diwakili oleh Sekwilda, Drs SH Sarundajang. Tetapi usulan itu tidak disetujui pemerintah Provinsi
Sulawesi Utara, dengan alasan bahwa pemekaran itu belum mendesak.
Tahun 2003 beberapa tokoh masyarakat di wilayah tenggara Minahasa kembali memperjuangkan Kabupaten Minahasa Tenggara, Januari 2004, terbentuklah Panitia Perjuangan Pembentukan Kabupaten Minahasa Tenggara (PPPKMT) dengan ketua, Dirk Tolu SH MH, Sekretaris Arce Manawan SE dan Bendahara Julius Toloiu SE. Sebulan kemudian PPPKMT mengajukan surat ke DPRD Kabupaten Minahasa dan Penjabat Bupati Kebupaten Minahasa Selatan, perihal pengusulan pembentukan Kabupaten Minahasa Tenggara. Sebagai tindak lanjut, Maret 2004, DPRD Kabupaten Minahasa membentuk panitia khusus dengan ketua Julius EA Tiow, Sekretaris Musa Rondo dengan anggota Ronald Andaria SAg dan Herman Tambuwun mengadakan kunjungan kerja ke wilayah Minahasa Tenggara untuk menampung aspirasi masyarakat. Selanjutnya Panitia Khusus DPRD Minahasa bertemu dengan Penjabat Bupati Minahasa Selatan Drs RM Luntungan untuk melaporkan tentang aspirasi masyarakat Minahasa Tenggara.
Untuk memberikan dukungan moril terhadap perjuangan pembentukan Kabupaten Minahasa Tenggara, 31 Januari 2006 terbentuk Forum Pendukung Perjuangan Pembentukan Kabupaten Minahasa Tenggara (FP3K MT) dengan ketua, Johanis Jangin SE, Sekretaris Teddy Rugian SSos yang nantinya mempresur politik ke pihak pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara dan pusat.
Selanjutnya secara berturut-turut, 29 Mei 2006 kunjungan Panitia AD HOC I Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI yang terdiri dari Hj Sri Kadarwati Aswin, Ir Marhany Pua, Lundu Panjaitan SH, Drs H Al Rasyid, Drs KH Marwan Aidid dan seorang staf, Mohamad Ilyas SIP. 27 Juni 2006, anggota Komisi II DPR RI, masing-masing Dr Abdul Gafur, Suyuti, Suyana beserta staf ahli DPR RI Yanuwar dan tim Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) pada 10 Agustus 2006, semuanya dalam rangka mengadakan peninjauan tentang kelayakan Minahasa Tenggara untuk menjadi sebagai kabupaten baru.
Pada 8 Desember 2006, di hadapan ratusan masyarakat Minahasa Tenggara yang hadir di gedung senayan Jakarta, dalam sidang paripurna DPR RI mengesahkan terbentuknya Kabupaten Minahasa Tenggara. Untuk menjalankan roda pemerintahan, pada 23 Mei 2007, Menteri Dalam Negeri Ad Interm, Widodo AS melantik Drs Albert Pontoh MM sebagai penjabat Bupati Kabupaten Minahasa Tenggara.
Tou Patokan Dalam Ke-Minahasa-an
Kendati secara pemerintahan Minahasa Tenggara sudah menjadi daerah otonom, namun sebagai satu kesatuan yang utuh dari Minahasa, maka seharusnya kita memahami makna yang terkandung dalam konteks Minahasa. Sebagaimana hasil musyawarah di Watu Pinawetengan 1428 atau Deklarasi Maesa II, yaitu nama Malesung diubah menjadi Nima Esa, Mina Esa, (Minahasa), artinya: ‘’Ya Setuju Semua Menjadi Satu’’.
Nama Minahasa mengandung suatu kesepakatan mulia dari para leluhur melalui musyarawarah dengan ikrar bahwa segenap tou Minahasa dan keturunannya akan selalu seia sekata dalam semangat budaya Sitou Timou Tumou Tou. Dengan kata lain tou Minahasa akan tetap bersatu (maesa) dimanapun ia berada dengan dilandasi sifat maesa-esaan (saling bersatu, seia sekata), maleo-leosan (saling mengasihi dan menyayangi), magenang-genangan (saling mengingat), malinga-lingaan (saling mendengar), masawang-sawangan (saling menolong) dan matombo-tomboloan (saling menopang). Inilah landasan satu kesatuan tou Minahasa yang kesemuanya bersumber dari nilai-nilai tradisi budaya asli Minahasa (Richard Leirissa, Manusia Minahasa, 1995).
Sebagai hasil dari peradaban, pendidikan dan budaya yang selalu ingin maju, sejak permulaan abad ke-19 tou Minahasa, di dalamnya tou Patokan bagaikan eksodus meninggalkan tanah leluhur, pergi ke berbagai pelosok Hindia Belanda (nusantara) menjadi sebagai guru injil dan guru sekolah, pengawas perkebunan pemerintah dan pegawai perusahaan swasta milik orang-orang Eropa di Jawa, pegawai pemerintahan, polisi dan tentara KNIL. Selain itu tou Minahasa menjadi pegawai pelayaran, jawatan kereta api, perusahaan minyak, mendirikan pers melayu di antaranya Koran Jawa, Kabar Perniagaan (1903) dan Jawa Tengah (1913) (David E.F. Henley Nasionalism And Regionalisme In Minahasa, 1996). Selanjutnya banyak di antaranya perantauan yang menggeluti profesi modern, seperti dokter, pengacara, insinyur, politikus dan pengusaha yang tersebar di berbagai tempat. Darinya, tou Minahasa termasuk pemerintah, menghormati setinggi-tingginya atas segala hasil usaha putra-putri Minahasa karena dengan saling bahu-membahu telah membawa kemajuan peradaban bagi sesama yang terkebelakang di kepulauan nusantara.
Kendati demikian dimanapun dan dalam keadaan apapun ia berada, tou Minahasa dengan bangga akan berkata,’’saya adalah orang Indonesia asal Minahasa, anak cucu Toar Lumimuut, putra-putri Kawanua’’. Pengembaraan tou Minahasa ke seluruh penjuru dunia telah memberinya berbagai pengalaman sosial, ekonomi, politik dan budaya berbagai bangsa, sekaligus tentang kesuksesan dan kegagalan yang kesemuanya dapat menjadi wacana dalam kerangka mencari jati diri tou Minahasa yang hakiki, yaitu tou ngaasan (pinter), tou beatean (beriman) dan tou keter (kuat dan bertanggung jawab).
Musyawarah Watu Pinawetengan di kaki Gunung Tonderukan, kini sudah membilang berabad-abad lamanya. Dalam kurun waktu teramat panjang, telah terbentang selaksa peristiwa silih berganti bagaikan pelangi yang menghiasi sejarah perjalanan hidup tou Minahasa. Hal ini berarti ke-minahasaan tetap dijiwai dalam ke-indonesia-an, bahkan dalam kemancanegaraan bagi setiap tou Minahasa dimanapun ia berada, sebagai bagian dari satu kesatuan Minahasa yang utuh.
Dengan demikian makna tou Patokan dalam konteks tou Minahasa; adalah menyangkut jiwa, kepribadian dan jati diri tou Minahasa. Jiwa, karena merupakan suatu yang utama, menjadi sumber tenaga dan kehidupan; di dalamnya mencakup seluruh keseutuhan perasaan batin, pikiran dan angan-angan, sehingga ia merupakan roh kehidupan dari setiap tou Minahasa. Sebagai kepribadian, karena ia merupakan seluruh dari sifat-sifat dan watak dari tou Minahasa, dan sebagai jati diri karena ia merupakan sesuatu yang asli dan murni sebagai ciri atau tanda pengenal tou Minahasa.
Hasil karya tou Minahasa/tou Patokan sebagai perwujudan dari potensi cipta, rasa, dan karsa itulah yang disebut sebagai budaya Minahasa dan sebagaimana layaknya suatu budaya, ia mengandung nilai-nilai dan norma-norma yang kemudian diaktakan dalam bentuk praktis yaitu suatu kekayaan rohani berupa pemikiran, yang kemudian diwujudkan dalam setiap ucapan dan perbuatan keseharian hidup sebagai tou Minahasa.#
*Tou Mitra, pemerhati sejarah budaya Minahasa

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s